Belajar Gamelan Degung

TEKNIK DASAR BELAJAR GAMELAN DEGUNG

Oleh : Yana Nuryana & Ridwan

  1. Pengenalan Laras Degung

    Dalam pembelajaran tabuh gamelan
    degung terlebih dahulu kita perkenalkan atau ajarkan pengetahuan tentang laras degung bias menggunakan notasi angka dan ditulis di bilah-bilah waditra, yaitu sebagai berikut :


    Dinotasikan oleh Yana Nuryana, 2013.

    Untuk mengenal karakter setiap bunyi waditra, serta mengenal interval antar nada, mainkan nada-nada tersebut berulangkali sampai seluruh peserta ajar bisa merasakan setiap karakter bunyi.

  1. Pengenalan Waditra

    Didalam pengenalan waditra gamelan degung kita jelaskan bentuk fisik setiap waditra gamelan degung, yaitu waditra terbuat dari bahan logam berbentuk penclon terdiri dari bonang, jenglong, kempul dan gong, waditra berbentuk bilah terdiri dari saron
    peking/saron (1), dan saron
    penerus/ saron (2), selanjutnya mengenalkan bentuk waditra yang lain yaitu kendang yang dibuat bahan kayu, masuk ke dalam jenis alat musik perkusi dengan sumber bunyi dari selaput/ membrane.


    Gambar 4.4

    Waditra gamelan degung

    (Dokumentasi Yana Nuryana 2013)

  1. Susunan Nada dan Fungsi Waditra

    Pengenalan susunan nada pada setiap waditra gamelan degung dijelaskan kepada seluruh peserta ajar dan langsung membunyikan dengan cara memukul satu persatu nada yang ada pada setiap waditra gamelan degung tersebut dari nada tertinggi sampai nada terendah. Setelah itu kita menjelaskan juga perbedaan rentang nada yang dimiliki pada setiap waditra gamelan degung. Setiap peserta ajar diharuskan hapal susunan serta rentang nada dari waditra gamelan degung yang menjadi pegangannya, dan juga mengenal susunan dan rentang nada waditra gamelan degung yang lainnya yang bukan pegangannya, karena pada tahap selanjutnya peserta ajar tidak hanya menguasai dan dapat memainkan satu waditra gamelan degung saja, tetapi menguasai semua waditra gamelan degung. Untuk pertama setiap peserta ajar dilatih untuk menguasai satu waditra gamelan degung saja, berikutnya kita akan memutar secara bergilir peserta ajar agar belajar memegang seluruh waditra gamelan degung.

        Susunan nada setiap waditra gamelan degung dijelaskan dibawah ini sebagai berikut:

    1. Letak Peking (Saron 1)


    Dinotasikan oleh Yana Nuryana, 2013.

Susunan nada pada saron
peking terdiri dari dari dua gembyang dan difungsikan sebagai melodi atau difungsikan sebagai filler atau pamanis lagu.

  1. Letak Panerus (Saron 2)


    Dinotasikan oleh Yana Nuryana, 2013.

    Saron
    panerus memiliki fungsi sebagai penerus dari peking yang menjadi patokan nada pada waditra bonang.

  2. Letak Bonang


    Dinotasikan oleh Yana Nuryana, 2013.

        Waditra bonang adalah alat musik sunda yang terbuat dari bahan logam perunggu yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat bantu pemukul. Bonang biasanya disusun dengan bentuk V atau menyerupai siku-siku. Pada umunya bonang terdapat 14 penclon yang dibagi menjadi 2 bagian, 7 penclon dibagian kanan dan 7 penclon dibagian kiri yang terdiri dari nada 2 (mi) hingga 5 (la). Penclon-penclon ini disusun diatas rancak dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) diujung sebelah kanan pemain dengan berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) diujung sebelah kiri. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra, pangkat lagu dibawakan oleh bonang.

  3. Letak Jenglong


    Dinotasikan oleh Yana Nuryana, 2013.

     Waditra jenglong adalah alat musik yang terbuat dari perunggu, kuningan atau besi yang berdiameter antara 30 cm sampai dengan 40 cm, sama seperti pada waditra bonang yaitu disusun dengan bentuk V atau menyerupai siku – siku. Penclon pada waditra jenglong berjumlah sedikit dibandingkan dengan waditra bonang yaitu 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la), 1 (da), 2 (mi), 3 (na), 4 (ti), hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang), dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass; penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang.

  4. Waditra Gong

     

Gambar 4.5

(Dokumentasi Yana Nuryana 2013)

Waditra gong yang terdiri dari 2 buah penclon, yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak. Kempul (gong kecil) berada di sebelah kiri pemain , sementara goong (gong besar) di sebelah kanan pemain. Ambitus nada gong sangat rendah, bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu. Peserta ajar yang memegang waditra gong hendaknya menguasai lagu sehingga membunyikan kempul dan gong secara tepat pada waktu yang dikehendaki.

  1. Waditra Kendang

Gambar 4.6

(Dokumentasi Yana Nuryana 2013)

Menurut bentuk dan wujudnya, kendang sunda ada dua macam yaitu ada yang disebut kendang besar (kendang indung) dan ada yang disebut kendang kecil (kulanter). Muka (beungeut) kendang besar bagian atas disebut kumpyang dan bagian bawah disebut gedug. Sedangkan pada kendang kecil muka (beungeut) bagian atas disebut kutiplak dan bagian bawah disebut kutipung. fungsi kendang adalah sebagai pengendali, artinya pengendali setiap permainan gamelan dalam berbagai jenis seni karawitan yang ada di daerah Sunda. Fungsi kendang dalam suatu lagu yang dimainkan memiliki hal terpenting yaitu mengendalikan tempo dan irama setiap gending, baik tempo pokok maupun irama cepat ataupun lambat dan tangkap, diatur dengan bunyi kendang termasuk didalamnya mengawali dan mengakhiri gendingan.

  1. Cara Memegang Panakol dan Teknik Tabuhan

    Cara memegang penabuh / panakol waditra gamelan degung dan teknik menabuh Pada kegiatan pembelajaran tabuh gamelan degung yaitu, peserta ajar diperkenalkan ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam memegang penabuh / panakol dan jenis panakol yang digunakan untuk setiap waditra gamelan degung.

    Seperti pada waditra bonang tangan kanan dan tangan kiri sama -sama memegang penabuh / panakol yang dalam teknik menabuhnya bisa dikemprang dan dicaruk kemudian
    ditabuhkan pada bagian tengah penclon dan menggunakan sejenis panakol yang digunakan terbuat dari kayu berbentuk panjang dengan ujung yang dibungkus oleh bahan kain yang dililit benang – benang dan dibulatkan, seperti pada gambar berikut di bawah ini:

Gambar 4.7

Gambar panakol
bonang (Dokumentasi Yana Nuryana 2013

Pada waditra saron hanya memegang satu penabuh yakni pada tangan kanan sedangkan tangan kiri berfungsi untuk menengkep dan menggunakan jenis panakol berbentuk seperti palu terbuat dari kayu tanpa ada lapisan apapun, seperti gambar berikut:

Gambat 4.9

Panakol untuk saron
peking dan saron
panerus

(Dokumentasi Yana Nuryana 2013)

Waditra jenglong tangan kanan dan tangan kiri memegang panakol dan ditabuh bersamaan dan menggunakan panakol yang sejenis dengan panakol bonang yang terbuat dari kayu berbentuk panjang dengan ujung yang dibungkus oleh bahan kain yang dililit benang – benang dan dibulatkan, seperti gambar dibawah :

Gambar 4.11

Gambar panakol jenglong


(Dokumentasi Yana Nuryana 2013)

Dalam waditra goong tangan hanya memegang satu panakol yakni di pegang di tangan kanan sedangkan tangan kiri masuk ke dalam perut goong kecil (kempul) yang fungsinya sebagai peredam suara karena goong bersifat menggema. Dan menggunakan jenis panakol yang menggunakan pelapis dari kain seperti gambar berikut :


Gambar 4.13

Gambar panakol
gong

(Dokumentasi Yana Nuryana 2013)

Kita memperkenalkan bagaimana cara menabuh pada masing-masing waditra. Seperti halnya pada waditra bonang, bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok, pangkat dalam lagu degung dimulai dari waditra bonang. Bonang merupakan waditra berpenclon yang dalam teknik menabuhnya bisa di
kemprang (menabuh dengan menggunakan ke dua tangan dengan jarak satu gembyang secara bersamaan). Di caruk (dua waditra yang dipukul secara bersahutan) bila yang satu jatuh pada ketukan ke satu dan ke tiga maka yang lainnya jatuh pada bilangan ke dua dan ke empat. Waditra saron sebagai pengisi melodi pada gamelan degung jadi kita menjelaskan pastikan dalam menabuh saron baik saron 1 maupun saron 2 tidak ada ujung pada tiap tabuhannya yaitu dengan cara tangan kiri menangkepnya.

Peserta ajar yang memainkan bonang tidak berhenti memainkan waditranya, kita melatih tabuhan pada saron
peking. Dengan secara bersamaan bonang dan saron
peking bisa bermain, setelah itu kita mengajarkan teknik tabuhan pada peserta ajar yang akan memainkan waditra saron
panerus. Pada saat kita mengajarkan tabuhan pada saron
panerus, peserta ajar yang telah diajarkan sebelumnya memainkan tabuhannya secara berulang-ulang. Sehingga, peserta ajar di harapkan mampu merasakan perbedaan pada masing-masing tabuhannya dan materi yang disampaikan kepada peserta ajar dapat dengan mudah ditangkap oleh peserta ajar.

Materi Pembelajaran Gamelan Degung

Materi lagu yang pertama kali di berikan yaitu lagu catrik, yaitu sebagai berikut :




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s