Cerpen : Hari yang Luar Biasa

Selepas magrib pukul tujuh tigapuluh waktu yang terlalu malam untuk anak perempuan kecilku pulang ke rumah namun keseringanlah yang membiasakannya, meski terkadang perasaan hati tidak pernah memberi ikhlas. Rasanya begitu kejam rutinitas untuk sekedar menyambung hidup ini.
Seandainya aku berlapang harta, mungkin tak kan seperti ini anjing-anjing najis akan menjaga rumah, pramuwisma bersiap tegap setiap kapan dibutuhkan, anak-anak tak kemana perginya terpenjara aturan pengasuh pendampingnya yang menyuapi, menyusukan, menidurkan, dan segudang aturan.
Saat ini gadis kecil dan anak lelakiku yang semata wayang harus bersimbah peluh sendiri agar bisa menjaga dirinya dari haus, lapar, dan ketidaknyamanan pengganggu alami sakit dan resah tak ada kawan untuk dimintai tolong sekedar untuk membuatkan susu di dot kesayangannya. Adik iparkulah yang rela berbagi kasih dengan putri kecilku dan putrinya yang seusia agak muda.

Sejuk senja Ciwaruga tanpa hujan ku lewati berdua dengan perempuan kecilku menuju tempat kendaraan kuparkirkan, kerlip bintang di benderang angkasa menemani rembulan yang agak tertutup awan.
“Ra, lihat cahaya beterbangan menghiasi kebun di sebelah jalan!”
“Mana, bah?, Oh iya bah cahayanya ko bisa terbang?” sahut anakku sedikit agak kaget.
“Itu cahaya dari binatang yang bisa terbang yang bernama Cika-cika kalau Bahasa Indonesianya Kunang-kunang.” Aku berusaha menjelaskan.
“Cika-cika itu bukan hantu terbang kan?, kenapa namanya dua, Cika-cika dan Kunang-kunang?” tanya putriku penasaran.

Sialan, dalam hati bergumam ah dasar anak-anak sekarang terlalu sering dibodohi acara-acara dan film-film bodoh karya anak bangsa sendiri yang ceritanya hantu melulu. Mengapa mereka tidak berani membuat cerita yang menceritakan seorang anak bangsa yang berjaya membangun bangsa, mengungkap sejarah bangsa, mengukir sejarah cerita yang bisa mengangkat moral bangsa. Tapi biarlah dengan karya seperti juga sudah membuat mereka bisa makan dan berbagai dengan kru dan kawan-kawan lainnya yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam pembuatan dan pemasaran karya-karya itu sedikit membantu menyediakan lapangan kerja bagi anak bangsa setidaknya saat ini, lumayanlah.

“Bah, tangkap satu kita liatin ke si Aa bisi gak tahueun”, anakku memotong gumaman. Aku terharu dengan kalimat yang dilontarkannya, betapa ia sangat memperhatikan kakaknya yang sendiri di rumah sedang tidak sempat bersama-sama menikmati malam penuh kunang-kunang berterbangan.

Satu ekor berusaha kutangkap untuk kubawa pulang dengan terlebih dahulu kuperlihatkan pada anakku, dipegangnya binatang bercahaya itu dengan tanpa takut. Tentu saja aku tidak khawatir lagi dengan pernyataannya yang menuding binatang terbang bercahaya itu “hantu”. Dielus dan disayangnya cika-cika itu lantas kulepas terbang di dalam mobil untuk ditangkap lagi sesampai di rumah dan akan ditunjukkannya pada kakaknya.

Sepanjang perjalanan tiada henti-hentinya gadis kecilku berceloteh tentang binatang bercahaya tangkapanku, mulai dari menanyakan dari mana asalnya, kenapa bisa bercahaya, kok benatang sejenisnya gak bercahaya, kok bisa terbang, kenapa terbangnya di malam hari, kemana dia di siang hari, makanan pokoknya apa, dan banyak pertanyaan menggelitik lainnya yang semuanya kujawab sebijak mungkin tanpa mengosongkan isi jawaban satu pertanyaanpun.

Serambi depan rumah tampak masih gulita anak laki-lakiku mungkin lupa menyalakan lampu depan, di dalam rumah benderang. Seperti biasa tak pernah kupijit klakson mobilku sesampainya di rumah takut mengganggu tetangga yang mungkin sedang beristirahat bersendagurau bersama keluarga di ruang tengah rumahnya yang jarang kami lakoni di rumah. Kubuka perlahan pintu mobilku.
“Abah! Pelan-pelan dong buka pintunya tuh kan Cika-cikanya kabur!” anakku menghardik aga kesal.
“Waduh, Abah lupa, kemana dia terbang?”, seraya aku menghampiri anakku yang kesal.
“Makanya ab tuh harus inget kita kan lagi bawa Cika-cika, jadi Cika-cikanya gak kabur”, lagi-lagi anakku mengingatkan bak orak dewasa, sambil kutinggalkan kututup pintu mobil kubuka pintu pagar rumah lalu dengan diam dan pelan-pelan mobil kumasukkan kedalam.

“Eh, Bah cika-cikanya masih ada!” teriak anakku menjerit riang.
Akupun berusaha menangkapnya hati-hati.
“Sini Bah sama Rara aja, biar diliatin ke si Aa”. Terlihat riang seraya menggenggam Kunang-kunang yang hampir hilang itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari pintu mobil yang terbuka.
“Cika-cikanya terbang!”
“Abah sih kenapa gak dibukain pintu mobilnya, harusnya Abah tolongin Rara pegangin dulu Cika-cikanya!” nyerocos tanpa sempat kujawab keluhannya.
Raut wajahnya sedikit muram, lalu memutarkan bola matanya dilemparkannya kepenjuru arah angin mencoba menemukan arah kemana binatang bercahaya itu pergi. Setelah yakin tek melihatnya lagi lantas dia bertanya, “Bah kemana dia pergi ya?” tanyanya agak lemah terdengar lirih.
“Sudahlah biarkan dia terbang mencari kawan-kawannya, biar dia bisa makan, dan bisa beranak pinak, besok lusa kita liat di kebun sebelah pasti mereka datang berbondong menerangi kebun”, aku berusaha menenangkan dia.
“Iya tapi si Aa kan belum liat, kasian kan gak bisa liat bianatang bercahaya”, sambil berteriak memanggil kakaknya di dalam rumah, tapi tak ada jawaban.

Didapati anak lelakiku tertidur pulas di kasur lepet di depan televisi. Kupegang tangannya agak panas menyeriak, keningnyapun demikian lalu kubangunkan dan menyuruhnya untuk ambil air wudlhu dan shalat Magrib sebelum menyuruhnya makan malam.

“A bangun…!” lalu gadis kecil itu bercerita panjang lebar tentang binatang tangkapan tanpa memberi kesempatan kakaknya menjawab atau mengomentari.
“Aa sakit, sepulang ngaji Aa rieut, kepala pusing tubuh panas dingin”, terdengar suaranya agak parau dari dapur aku menghampiri, “ Iya, sudah kamu Shalat dulu terus makan dan minum obat ya”, sahutku.

Gadis kecil itu tak mau begitu saja menutup ceritanya tentang Cika-cika sambil menguntil kakaknya yang masuk kamar mandi hendak mengambil air wudu, dia terus bercerita sampai akhirnya kakaknya meng-iyakan dan mengatakan bahwa diapun sudah tahu binatang yang dimaksud beberapa waktu yang lalu ketika kubawa berlibur di kampung halamanku dahulu. Akupun teringat sambil membuang senyum kulempar haru.

Si cantik anak perempuanku menghampiriku dan berkata dengan senang seraya raut wajahnya yang cantik jelita menggambarkan kebahagiaan yang tiada terkira dan dia tak lagi merasa berdosa pada kakaknya karena tidak bisa menunjukkan binatang yang menurutnya aneh itu.

Setengah jam kemudian tepat pukul tujuh 20menit terdengar pintu pagar menjerit terbuka diiringi raungan sepeda motor istriku yang langsung memasukkannya ke ruang tengah rumah kami yang mungil disambut teriakan riang si kecil dan tanpa menunggu ibunya duduk barang sebentar langsung nyerocos bercerita tentang binatang bercahaya yang di bawanya jauh-jauh dari Ciwaruga ke Cihanjuang tapi terlepas saat hendak dibawa masuk ke rumah dan tak sempat menujukannya pada kakak dan ibunya.

Tak terdengar jawaban dari ibunya yang langsung menghampiri anak laki-lakinya yang terbaring di kasur lepet lalu menyuapinya makan diakhiri dengan memberinya dua butir obat yang diminumkannya.

Aku merebahkan diri di samping kedua anakku, sungguh hari yang luar biasa…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s