Bajidoran/ Kliningan-Jaipong

EKSISTENSI GRUP KESENIAN BAJIDORAN RAMA MEDAL MANDIRI JAYA ( NAMIN GRUP) KARAWANG: STUDI KASUS TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN PADA SENI PERTUNJUKAN TRADISONAL

Oleh : Ridwan

I. Pendahuluan
a. Latar Belakang Penelitian

Kesenian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat hadir berlatar belakang masyarakatnya itu sendiri, lebih berhubungan sejauhmana mereka membutuhkan kesenian berada di tengah-tengahnya. Berbicara kebutuhan relefansinya adalah membicarakan fungsi, dalam hal ini fungsi kesenian/ seni. Fungsi seni/ kesenian bagi masyarakat memang sangat beragam, seperti diungkapkan oleh Soedarsono (1999:57) bahwa, “Setiap zaman, setiap kelompok etnis, serta setiap lingkungan masyarakat, setiap bentuk seni pertunjukan memiliki fungsi primer dan sekunder yang berbeda”. Fungsi primer meliputi: (1) sebagai sarana upacara; (2) sebagai ungkapan pribadi, dan; (3) sebagai presentasi estetis. Fungsi sekunder adalah apabila seni pertunjukan bertujuan bukan untuk dinikmati, tetapi untuk kepentingan yang lain. Itulah sebabnya seni/kesenian selalu ada di tengah-tengah masyarakatnya, jika kesenian itu masih memiliki fungsi baik primer maupun sekunder yang jelas bagi masyarakat pemiliknya.
Manakala kesenian-kesenian itu tidak lagi memiliki fungsi yang jelas bagi masyarakat pemiliknya, seperti yang dimaksudkan Soedarsono, maka bukan berarti seni/ kesenian itu mati melainkan timbulnya proses regulasi atau perubahan saja. Misalnya, kesenian Wayang Golek yang biasa digunakan sebagai media ruwatan, ketika masyarakatnya tidak lagi percaya akan upacara ruwatan tersebut, maka bukan berarti keseniannya tidak ada lagi yang memanfaatkan. Kenyataannya, kesenian tersebut tetap dipergunakan oleh masyarakat pendukungnya sebagai media hiburan.
Jika kita membahas tentang fungsi kesenian bagi masyarakat pendukung kesenian tersebut, kita tidak dapat mengabaikan salah satu fungsi kesenian sekunder yang tidak kalah penting dari fungsi kesenian primer, yaitu bahwa kesenian dapat dijadikan sebagai mata pencaharian dalam kehidupan sehari-hari para senimannya. Bagi para seniman seperti ini akan selalu berupaya agar berbagai kegiatan berkeseniannya dapat dijadikan sebagai kegiatan yang akan menghasilkan uang, disamping menghasilkan kepuasan estetisnya. Kegiatan yang dilakukan biasanya dalam bentuk penjualan jasa pertunjukan dan penjualan terhadap berbagai hasil karya yang telah diciptakannya.
Untuk menjadi seorang seniman yang berorientasi kepada penghargaan dalam bentuk uang atau yang lebih dikenal dengan seniman profesional (komersial), bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Seorang seniman penyaji yang penghasilannya diperoleh dari hasil menjual jasa keterampilannya dari satu panggung ke panggung berikutnya, selalu membuat strategi untuk mencari order/acara agar keterampilannya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Hal ini dikemukakan oleh Permas, “Jika organisasi memerlukan bantuan pendanaan yang cukup besar dan untuk jangka waktu yang lama, maka adanya rencana stratejik sangat diperlukan” (2002: 36). Begitu pula bagi para seniman yang penghasilannya diperoleh dari hasil menjual karya-karya kreativitasnya, akan selalu berupaya untuk berpikir tentang bagaimana agar karya-karyanya laku di masyarakat. Pada akhirnya bahwa para seniman yang berpikir bisnis, semuanya akan berpikir tentang strategi agar kegiatan berkeseniannya dapat mendatangkan penghasilan seperti yang diharapkan.
Para seniman yang berorientasi bisnis harus bisa mengelola bisnisnya dengan baik, agar eksisitensinya tetap diperhitungkan masyarakat pendukungnya. Eksisitensi suatu organisasi (bisnis jasa dan non-jasa) selalu berhubungan dengan sumber daya internal dan sumber daya eksternalnya. Kekuatan lingkungan eksternalnya bersifat lebih cepat berubah dan penuh ketidakpastian (turbulence) sehingga mempengaruhi kapabilitas organisasi dalam mempertahankan posisinya di pasar. Bagaimana masyarakat bisnis jasa kesenian menghadapi permasalahan tersebut?
Sebut saja Rama Medal Mandiri Jaya (Namin Grup) dari daerah pantura tepatnya di Karawang Jawa Barat, grup kesenian Kliningan jaipongan (Bajidoran) ini cukup terkemuka bagi masyarakat pencinta dan pendukung seni bajidoran di Jawa Barat dan kelompok ini pula yang membuat penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh keberadaanya.
Ketertarikan peneliti terhadap grup kesenian/seni musik Rama Medal Mandiri Jaya tersebut adalah pada hal manajemen pengelolaan grup sehingga menjadi sebuah grup yang patut diperhitungkan popularitas dan eksistensinya. Namin sebagai pimpinan grup yang juga merangkap sebagai Juru Kendang dalam grup musik tersebut, meskipun hanya lulusan Sekolah Dasar ternyata memiliki kemampuan untuk mengelola organisasi hingga memiliki popularitas cukup tinggi di Jawa Barat. Kaitannya dengan penelitian yang akan dilakukan adalah ada keinginan dari peneliti untuk mengkaji langkah-langkah manajemen yang dilakukan oleh Namin di dalam pengelolaan grup keseniannya
b. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengelolaan Seni Pertunjukan yang dilakukan RMMJ dalam mengembangkan Kesenian Bajidoran (kliningan-jaipong) tersebut?
2. Bagaimana Pengelolaan Manajemen Sumber Daya Manusia yang dilakukan di RMMJ, sehingga bisa menjadi sebuah grup kesenian yang profesional dan populer?
3. Bagaimana strategi yang dilakukan oleh Namin untuk meningkatkan popularitasnya?
c. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui dan memahami, bagaimana pengelolaan seni pertunjukan yang dilakukan Namin dalam mengembangkan Grup Bajidoran (kliningan-jaipong)nya.
2. Mengetahui bagaimana pengelolaan manajemen sumber daya manusia pendukung grup Namin, sehingga bisa menjadi sebuah grup kesenian yang profesional dan populer di masyarakatnya.
3. Mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh Namin dan kelompoknya dalam mendongkrak popularitasnya?
d. Kegunaan Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk berbagai tujuan, antara lain: 1. Kegunaan Akademik, hasil penelitian dapat berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dengan bertambahnya bahan bacaan dan wawasan yang sangat beragam dalam khasanah keilmuan terutama pengetahuan tentang seni ditinjau dari aspek penerapan fungsi-fungsi manajemen yang kelak akan menjadi bahan kajian lebih lanjut. 2. Kegunaan Praktis, dapat menjadi pedoman bagi grup kesenian Bajidoran (kliningan-jaipong) atau grup pertunjukan lainnya yang ingin mengembangkan kemasan seni pertunjukannya. Di samping itu juga akan bermanfaat bagi para pengelola seni/ kesenian pertunjukan sebagai salah satu model atau pedoman dan rencana kerja. Hasil penelitian ini juga diharapkan bisa bermanfaat bagi pemerintahan daerah setempat dalam upaya mengangkat dan melestarikan kebudayaan sebagai kekayaan dalam bidang kesenian tradisional.
3. Asumsi
Keberadaan kesenian tradisional akan tetap diakui eksistensinya di tengah-tengah masayarakat dan pendukungnya, apabila dikelola dengan sistem manajemen yang baik dan mendapat dukungan dari berbagai unsur, seperti; unsur pemerintah, unsur sponsorsip, dan unsur seniman itu sendiri. Manajemen dengan fungsi-fungsinya jika dijalankan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan yang ada, akan membantu para pengelola kesenian/ seni tradisional tersebut.
II. Landasan Teoretis
a. Pengelolaan Seni Pertunjukan dalam Pengembangan Kesenian Bajidoran (kliningan-jaipong)
Berbicara tentang pertunjukan pada dasarnya adalah membicarakan perwujudan empat elemen mendasar yang berkaitan dengan kebutuhan pelaksanaan pertunjukan itu sendiri, yaitu (1) Creative raw material (bahan) , (2) A person to refine the material (orang yang akan menjalankan bahan tersebut), (3) A place to present the material (Tempat pertunjukan), (4) An audience to witness the presentation (penonton). (Stephen Langley: 24, 1974). Empat elemen tersebut tidak terkotak-kotakan pada genre seni pertunjukan tertentu seni tradisi atau seni moderen, melainkan bersifat universal termasuk untuk pertunjukan kesenian rakyat (Folk Art) yang tidak terlepas dari budaya dan seni tradisi.
Upaya pelestarian seni budaya dilakukan oleh berbagai pihak, baik masyarakat pendukung seni itu sendiri maupun keterlibatan pemerintahan dalam hal ini dinas kebudayaan dan pariwisata, dapat terlihat dari Rencana Kinerja Deputi V tahun 2005: Program Nasional pengembangan dan keserasian kebijakan bidang kesejahteraan rakyat kegiatan koordinasi pengembangan kebijakan agama, budaya, dan pariwisata. Dalam point 12, Koordinasi investasi khasanah budaya daerah dengan tujuan untuk melestarikan dan membangkitkan budaya lokal, diharapkan menumbuhkan kreasi seni dan budaya http://menkokesra.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=54&itemid=79
Wolff dalam bukunya The Social Production of Art, mengutarakan bahwa perkembangan seni tidak bisa lepas dari masyarakat pendukungnya, (1993: 26-48), sejalan dengan pandangan Wolff, Arnold Hauser dalam tulisannya The Sociology of Art dengan bahasan khusus Art as a Product of Society dan Society as the Product of Art, mengungkapkan bahwa seni sebagai produk masyarakat tidak lepas dari adanya berbagai faktor sosial budaya, yaitu faktor alamiah dan faktor generasi, yang semuanya memiliki andil bagi perkembangan seni, (1982: 94-328).
Sementara itu adanya dukungan masyarakat, yang menjadikan kesenian/seni sebagai kebutuhan mahluk sosial dalam menjalankan ritual beragama, sekuler dan sebagainya. Keberadaannya merupakan adanya ikatan sosial yang kuat antara pelaku seni dan penikmat seni. Demikian yang diungkapkan James R. Brandon dalam bukunya Theatre in Southeast Asia, yang dialihbahasakan oleh R. M. Soedarsono, dalam bukunya jejak-jejak Seni Pertunjukan di Asia Tenggara, (2003: 251-263). Dalam buku yang sama Brandon, mengungkapkan bahwa; pengelolaan kelompok atau rombongan-rombongan seni pertunjukan profesional menopang diri mereka sendiri dengan bermacam-macam cara. Masing-masing cara yang pokok dari dukungan adalah dengan konsep kontrak sosial, yaitu kontrak yang lebih dari sekedar persetujuan keuangan, tetapi mencakup kewajiban-kewajiban serta hak-hak sosial yang kompleks pada kedua pihak.
Dukungan kedua adalah yang ditopang atas inisiatif sendiri (dukungan komersial langsung), dukungan ini oleh Brandon (1967, atau terjemahan Soedarsono, 2003) disebut commercial support, dukungan ini muncul ketika kehadiran golongan masyarakat urban yang menghendaki jenis pertunjukan yang ringan dan menghibur dan bisa disaksikan sembarang waktu dengan membeli karcis, oleh Hauser disebutnya sebagai popular art.
Dukungan yang ketiga adalah dukungan yang ditopang oleh inisiatif sponsor (communal suport). Dukungan untuk kelompok kesenian ini biasanya terjadi pada seni pertunjukan yang berkategori sebagai folk art, penikmatnya adalah rakyat terutama yang tinggal di pedesaan. Sudah barang tentu karena pada umumnya orang desa hanya memilki penghasilan rendah, mereka juga tidak mampu menjadi penyandang dana bagi kelangsungan kehidupan seni pertunjukan mereka dengan baik. Dana itu ditanggung oleh masyarakat desa seluruhnya bila kepentingan itu untuk kepentingan desa, misalnya untuk upacara bersih desa dan sebagainya. Bila kepentingannya untuk keluarga tertentu misalnya untuk acara pernikahan atau khitanan, maka kepala rumah tangga keluarga itulah sebagai penyandang dananya. (Narawati, 2006). Bertitik tolak dari ketiga jenis dukungan tersebut kelompok/grup kesenian dapat dikelola agar dapat terus berkembang dan tetap diakui keberadaanya oleh masyarakat pendukungnya.
Adrie Subono, seorang tokoh perkembangan showbiz (baca:bisnis pertunjukan) Indonesia, berpendapat bahwa yang terpenting dalam pengelolaan sebuah pertunjukan, adalah, memiliki pola kerja yang sederhana tetapi memiliki job deskription (deskripsi kerja) yang jelas. Pendelegasian wewenang dan tanggungjawab juga merupakan hal penting dalam penyelenggaran sebuah pertunjukan, antara lain dengan dibentuknya divisi alur kerja. Di dalam kegiatan penyelenggaraan pertunjukan Subono mempersiapkan sekurangnya lima divisi besar: talent, produksi, ticketing, keuangan, dan pers. Secara sederhana tugas mereka masing-masing ialah mengurus keperluan artis selama di Indonesia, menyediakan peralatan konser, menjalin komunikasi dengan sponsor, penonton, dan media masa. (Subono, 2003: 28).
b. Kepentingan Strategis Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana manusia tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerjasama dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah. (htt://www.fe.unpad.ac.id/clearning_fe/dosen/ernie/pengantar…)
Manajemen yang baik, adalah antara lain memiliki sumber daya manusia yang baik pula, karena daya saing perusahaan ditentukan sepenuhnya oleh sumber daya manusia yang handal. Demikian halnya dengan sumber daya manusia grup kesenian/seni tradisional Bajidoran (kliningan-jaipongan,) harus memiliki integritas profesional. Integritas profesional menurut Becker dalam bukunya Art Worlds mengemukakan; Intergrated professionals have the technical abilities, social skills, and conceptual apparatus necessery to makes it easy to make art, (1984: 228).
William F. Glueck, Lawrence R. Jauch, dalam tulisannya yang dialihbahasakan oleh Murad dan Henry Sitanggang, (199; 173).Menjelaskan bahwa manajemen sumber daya manusia akan menentukan; Citra dan prestise perusahaan, Struktur organisasi dan suasana yang efektif, Sistem manajemen strategis, Sejarah perusahaan adalam mencapai tujuan, Pengaruh terhadap badan pemerintah, Sistem dukungan staf yang efektif, Karyawan yang berkualitas tinggi, Pengalaman kerja dan prestasi puncak yang seimbang, Hubungan yang efektif dengan serikat buruh, Informasi manajemen dan sistem komputerisasi yang efektif.
Flippo (1984:21), dalam tulisannya menjelaskan bahwa:
”a comprehenshive definitions of personnel management must include also the operative functions in the field;…Operative functions; 1. Procurement, 2. Development, 3. Compensation, 4. Integration, 5. Maintenance, 6. Seperartion”.

c. Manajemen Sebagai Upaya Mendongkrak Popularitas
Dalam hal ini manajemen diartikan sebagai ” sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya” (Nickles, McHugh and McHugh, 1997; Sirait, 1990:8).
Penting tidaknya sebuah organisasi seni pertunjukan memiliki manajemen yang baik, Achsan Permas (2002; 15), menyatakan bahwa:
1. Manajemen dapat membantu organisasi atau kelompok seni/kesenian dalam pengelolaan kelompok seninya.
2. Manajemen membantu aspek-aspek non-artistik yang mampu mendongkrak popularitas sebuah grup atau kelompok seni/kesenian.
3. Manajemen dapat meningkatkan kualitas kelompok atau grup seni/kesenian, termasuk peningkatan kualitas dan profesionalisme para senimannya.
Berkaitan dengan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan di dalam kegiatan manajemen, secara rinci dapat disampaikan tentang fungsi masing-masing kegiatan dalam manajemen tersebut, menurut George. R. Terry yaitu, sebagai berikut: 1. Fungsi Perencanaan (Planning);2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing); 3. Fungsi Pengarahan (Actuating); 4. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s